Klub Sepakbola Indonesia yang Bangkrut

Sepakbola selalu menghadikan kisah-kisah yang menarik untuk diketahui. Ada banyak pemain yang silih berganti, terang dan redup, seiring berjalannya waktu. Sama seperti para pemain, hal ini juga terjadi pada beberapa klub di Indonesia.

Sebagai salah satu negara dengan minat sepakbola yang tinggi, ada banyak sekali tim yang besar di setiap daeranya. Tim-timbesar di Indonesia sudah lama lahir, hal ini membuat sejarah tim menjadi salah satu hal yang patut diketahui oleh para penggemar. Beberapa tim di Indonesia memiliki kejayaan sejak awal berdiri, namun karena kondisi finansial tim yang tidak memungkinkan, membuat banyak tim yang mengubah nama dikarenakan berpindah kepemilikan.

Namun ternyata ada beberapa tim yang sudah jungkir balik mepertahankan diri di dunia sepakbola. Lantas siapa sajakah Klub Sepakbola Indonesia yang Bangkrut?

Niac Mitra ( New International Amusement Center)

Klub Sepakbola Indonesia yang Bangkrut - Niac Mitra

Klub legendaris asal Surabaya yang pernah memajukan nama Jawa Timur bersama Persebaya ini masuk ke dalam daftar Klub Sepakbola Indonesia yang Bangkrut.

Niac memilih bubarkan timnya karena aturan-aturan di liga yang menurutnya merugikan. Pemilik klub menilai liga menerapkan langkah yang salah. Kerugian akibat harus bermain dengan klub-klub divisi dua membuat Niac sepi penonton dan merugi. Sang pemilik klub pun memilih untuk membubarkan Niac di tahun 1991. Bantuan sempat datang dari mantan Menteri BUMN era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dahlan Iskan. Dahlah yang merupakan raja media dari daerah Sidoarjo ingin mengambil alih klub tersebut. Namun Wenas tak setuju, dan Dahlan pun meninggalkan klub tersebut.

Niac Mitra kini berubah nama menjadi Mitra Kukar FC yang bermarkas di Tenggarong, Kalimantan Timur.

Arseto Solo

Klub Sepakbola Indonesia yang Bangkrut - Arseto Solo

Mungkin para penggiat sepakbola di era ’90-an sudah tidak asing dengan tim Arseto Solo. Klub ini didirikan oleh putra Presiden Seoharto, Ari Sigit Haryodanto.

Nama-nama legenda lapangan Tanah Air seperti Agus Setyabudi, Nasrul Kotto, Miro Baldo Bento, Tonggo Tambunan, hingga Eduard Tjong pernah menjadi bagian dari klub ini. Arseto Solo masuk ke dalam Klub Sepakbola Indonesia yang Bangkrut.

Awalnya tim ini bermarkas di Jakarta, namun pada tahun 1983, tim ini pindah ke stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah. Alhasil masyarakat Solo langsung menyukai kedatangannya. Pasalnya diwaktu yang sama, Persis Solo sudah lama tenggelam usai kejayaan mereka di tahun 1940-an. Arseto bubar pada tahun 1998, setelah liga yang mereka ikuti berhenti karena kerusuhan.

Krama Yudha Tiga Berlian

Klub Sepakbola Indonesia yang Bangkrut selanjutnya adalah Krama Yudha Tiga Berlian. Pada awalnya klub ini bermarkas di palembang, namun karena satu dan banyak hal, klub ini pindah ke Bekasi.

Krama Yudha Tiga Berlian didirikan oleh Sjarnoebi Said, salah satu penggila bola di Indonesia. Namun arsip resmi Krama Yudha Tiga Berlian belum diketahui pasti.

Karena masalah finansial yang menerpa, Krama Yudha Tiga Berlianpada tahun 1991 pernah mengadu ke PSSI untuk meminta bantuan secara finansial untuk melunasi gaji para pemain, Setelah urusan penlunasan gaji pemain selesai, Krama Yudha Tiga Berlian membubarkan diri pada tahun 1992.