Sejarah Sepakbola Wanita

Sepakbola sudah menjadi salah satu cabang olah rga yang paling banyak digandrungi oleh masyarakat dunia. Bahkan dewasa ini, tidak ada batasan dalam sepakbola. Tua, muda, kelas atas maupun bawah, laki-laki maupun perempuan.

Berbicara mengenai sepakbola wanita, masih ditemukan jurang pemisah yang cukup tebal. Olahraga yang mengandalkan fisik ini masih menimbulkan cibiran ketika dimainkan oleh perempuan. Ketimpangan gender membuat hal-hal seperti ini menjadikan maskulinitas dan feminitas selalu bersaing.

sepakbola wanita piala dunia 2011

Sejarah sepakbola wanita sebenarnya tidak jauh berkembang setelah sepakbola laki-laki. Bahkan pada 23 Maret 1895, untuk pertama kalinya FIFA menyelenggarakan pertandingan sepakbola wanita di lapangan Crouch End Athletic, Alexandra Park, London. Pertandingan ini mempertemukan antara tim Utara dan tim Selatan.

Berbeda dengan saat ini, di era tersebut ada setidaknya 10.000 orang yang menjejali tribun untuk menyaksikan pertandingan bola yang dimainkan oleh para wanita. Nettie Honeyball, sebagai kapten pada pertandingan tersebut sekaligus merupakan pendiri British Ladies Football Club. Pertandingan ini dimenangkan oleh tim Selatan dengan skor 7-1.

Meski pada tahun 1890an merupakan periode dimana wanita mulai mendapatkan kebebasan pasca era Victoria, namun etika dan kesopanan masih terasa karena kedua tim bermain menggunakan blouse, topi dan celana baggy tiga-perempat yang lazim digunakan kala itu. Para pemain di dalam lapangan tidak mungkin menggunakan celana pendek seperti yang dipakai oleh pesepakbola lelaki karena akan dianggap terlalu vulgar.

Jika diurutkan, kebebasan ini sudah mulai terasa pada tahun 1870an dengan diperbolehkannya para wanitan untuk bersekolah dan berkuliah meski kesempatan ini hanya dimiliki oleh kalangan atas saja.

Pelajaran olahraga sendiri baru dimuat dalam kurikulum sekolah wanita pada tahun 1890an. Beberapa cabang olahraga seperti tennis, hockey dan croquet lebih dianggap bisa dimainkan oleh wanita ketimbang sepakbola. Karena olahraga seperti bersepeda saja baru bisa populer unutk wanita pada tahun 1890 karena adanya gerakan dari feminis radikal yang mendobrak paham konservatif.

Permainan sepak bola dianggap tidak cocok dimainkan oleh wanita karena dianggap olahraga yang keras dan mustahil dimainkan dengan rok panjang dan juga body contact juga dimainkan oleh kelas menengah kebawah.

Saat itu, wanita memang diperbolehkan untuk bermain sepakbola tapi dengan satu peraturan yang harus ditaati; boleh bermain sepakbola asalkan tidak menghentikan mereka menjadi seorang wanita. Singkatnya, wanita tidak boleh bermain kasar, harus dengan pakaian tertutup sehingga bagian tertutup tidak terlihat, harus di tempat tertutup dan tidak disaksikan laki-laki serta harus tetap berpakaian seperti layaknya seorang wanita.

Ladu Florence Dixie dan Nettie J Honeyball, dua sosok wanita yang berhasil mendobrak stigma tabu yang menjamur di masyarakat Inggris saat itu. Lady Florence adalah seorang novelis dan kerap mengirimkan artikel ke berbagai harian. “Football is the sport for women, the pastime of all others which will ensure health, and assist in destroying that hydra-headed monster, the present dress of women,” tulis Lady Florence di harian Pall Mall Gazette yang merujuk kepada pendobrakan tradisi konservatif oleh feminis. Lady Florence merupakan ketua British Ladies Football Club.

Sedangkan Nettie Honeyball sebagai kapten tim pernah difoto menggunakan jersey klub dan memperlihatkan kakinya. Ini merupakan sebuah skandal yang memalukan bagi masyarakat dengan paham konservatif kala itu karena bagi mereka, kaki seorang perempuan tidak boleh untuk diperlihatkan.

Sebelum skandalnya mendapatkan cibiran sebenarnya Nettie pernah dianggap tidak sopan karena memakai celana saat ia bersepeda. Namun hal ini dianggap tidak terlalu fatal karena bersepeda bukanlah olahraga yang kasar seperti sepakbola.

“Women are not the ornamental dan useless creatures men have pictured. We don’t play any la-di-da members. We play the game in the proper spirit,” ucap Nettie yang kala itu mendapatkan banyak tekanan untuk bermain bola dengan aturan berpakaian yang harus tertutup.

Sejarah sepakbola wanita masih terus berkembang hingga hari ini meskipun sepakbola wanita masih sering mendapatkan diskriminasi yang konyol. Tentang wanita yang tidak boleh memasuki tribun untuk menyaksikan pertandingan, pelecehan seksual yang kerap terjadi kepada perempuan di lingkungan lapangan yang dilakukan di pertandingan pria, hingga pelecehan yang dilemparkan komentator terhadap supporter perempuan Indonesia.